Ponorogo, Jawa Timur (PN) – Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo mencatat penurunan signifikan angka kematian ibu (AKI) dalam dua tahun terakhir. Pada 2024 tercatat 11 kasus, sementara pada 2025 menurun menjadi 5 kasus.
Kepala Dinkes Ponorogo, Dyah Ayu Puspitaningarti, menyebut capaian tersebut sebagai progres positif hasil kerja bersama lintas sektor bersama kader kesehatan.
“Untuk AKI kita turun, dari 11 kasus di 2024 menjadi 5 kasus di 2025. Tahun ini kami targetkan zero kasus,” ujar Dyah Ayu usai membuka kegiatan koordinasi Fasyankes 2026, Di Hotel Gajah Mada Lantai 3, Kamis (12/2/2026).
Meski demikian, Dinkes masih memberi perhatian serius terhadap angka kematian bayi (AKB). Walaupun mengalami penurunan dari 121 kasus pada 2024 menjadi 96 kasus di 2025, jumlah tersebut dinilai masih cukup tinggi.
“Memang turun, tapi itu belum memuaskan karena kasus kematian bayi masih terjadi,” paparnya.
Menurut Dyah Ayu, mayoritas kematian bayi terjadi pada periode neonatal atau usia 0–7 hari setelah lahir. Masa tersebut merupakan fase paling rentan dalam kehidupan bayi, yang umumnya berkaitan erat dengan kondisi kesehatan ibu selama kehamilan.
Ia menambahkan, faktor sosial dan lingkungan juga turut memengaruhi kondisi kesehatan ibu dan bayi. Hingga Januari sampai pertengahan Februari 2026, tercatat sudah 12 kasus kematian bayi di Ponorogo.
“Tahun ini kita targetkan kasus AKB seminim mungkin. Kita tentu tidak mengharapkan ada kasus, tapi yang terpenting adalah upaya maksimal untuk terus menekan angkanya,” tegasnya.
Sementara itu, Plt. Bupati Ponorogo Lisdyarita menambahkan, selain fokus pada penurunan AKI dan AKB, pemerintah daerah juga menargetkan penurunan angka stunting. Upaya tersebut dilakukan melalui pendampingan sejak pra-kehamilan hingga persalinan.
“Program pemeriksaan gratis dari Presiden harus dimanfaatkan. Selain itu, pemenuhan gizi ibu hamil dan pendampingan intensif perlu ditingkatkan untuk menekan angka stunting, AKB, dan AKI,” tegasnya.
Jurnalis : Adv.Tim Redaksi
Posting Komentar